Posts tagged ‘tangis’

Keanehan

Pernah ada masa saat semua begitu menyenangkan. Saat memikirkan diri sendiri adalah hal yang paling wajar di dunia. Saat itu, aku melihat, perang dingin dan saling menjatuhkan, saling menyembunyikan maksud sebenarnya, saling berperan seolah semua baik-baik saja.

Aku bukan berperan hanya sebagai penonton saat itu. Aku ikut sebagai salah satu pemeran yang berbicara di belakang, menjatuhkan mereka yang kusebut teman. Tahunan kulewati dengan peran seperti itu. Aku menikmatinya. Dan menurutku, itu masa yang sangat menyenangkan. Ada begitu banyak cerita tentang tahun-tahun itu, dan tak pernah ada kisah yang berujung pada air mata.

Tahun itu akhirnya memang terlewat. Tak ada yang bertahan lama dengan hal-hal seperti itu. Tahun itu kututup dengan senyum bahagia dan rasa haru.

Lalu, saat aku memulai tahun yang baru, aku tak ingin lagi melalui tahun yang sama. Aku memilih untuk tidak menjadi musuh dalam selimut. Melalui tahun yang baru dengan suasana yang baru. Aku tak ingin lagi menjadi bagian dari sisi – sisi yang terus saling bertabrakan. Karen itu, aku memilih berbaur, menyatu dengan semuanya.

Menyingkirkan segala keegoisanku, aku terus mencoba untuk menjalani masing-masing konsekuensi dari pilihan bodoh untuk berbaur ini. Saat sebenarnya sangat menyenangkan untuk bisa berada di satu sisi saja, aku memilih untuk merasai semua sisi. Berpikir untuk semua sisi. Berusaha menjalankan peran tanpa memihak. Menutup mata akan keegoisan masing-masing sisi ini.

Lalu, saat tiba-tiba sisi-sisi itu mendapatkan benturan, saya melihat keegoisan sisi-sisi itu menyakitiku. Sisi-sisi itu terlalu egois untuk diperjuangkan. Selama ini, akhirnya aku mendapati semuanya hanyalah kebodohan.

MAHASISWA ITU MAKHLUK PALING BODOH, EGOIS, MEMIKIRKAN KESENANGAN SENDIRI, DAN SANGAT TIDAK PEDULI PADA SIAPA PUN!!!!!

Advertisements

Masih Tidak Bisa Baik

2 Januari 2011

Dear…

Sudah sekitar sembilan bulan berlalu sejak tangisan2 kekecewaan itu tumpah. Aku tak bisa lupa akan malam itu. Saat mereka semua saling menangis, saat mereka semua saling berkata sakit. Aku diam saja malam itu. Tak tau harus berkata apa. Bagaimana pun, mereka tak pernah benar2 membuat masalah denganku. Aku masih memilih mengacuhkan situasi itu, dan melihat akan jadi apa selanjutnya. Read more…

Ini Curhat

Peringatan: tulisan ini akan panjang dan membosankan. Monoton dan murni tentangku. Bacalah kalau ingin tahu, tapi saya sangat menyarankan tidak membacanya.

Read more…

Bosan

Kalo saya ditanya pagi tadi apa yang saya rasa, saya akan jawab saya cukup bahagia dan hidup saya tenang2 saja. Read more…

18 November 2010

izinkan aku menangis hari ini.

mungkin aku lagi-lagi hanya sedang iri. mungkin lagi-lagi aku hanya sedang sedih. mungkin lagi-lagi aku hanya sedang tak bisa menahan diri.

kau tau, kawan? ingin lagi2 kukatakan padamu, tiap tanyamu tentang “kau kenapa?” sangat berharga untukku. mungkin aku yang berlebihan dalam melihatmu. mungkin aku yang kurang peka. tapi aku memang lelah. aku menulis ini di sini, untuk sekedar melepas sedikit rasa sakitku. sedikit melepas perih dan mengobati luka.

mungkin aku yang tak pandai berkata2, kawan. aku senang merangkai kata, tapi tak senang membumbui kata2ku. aku berkata2 cukup dengan apa yang kumaksudkan, tanpa melebih2kan atau pun mengurangi. sering sekali aku ingin berbagi kisahku denganmu, namun, jarang sekali aku mendapatimu menanggapi dengan baik. mungkin aku memang bukan pencerita yang baik. tapi salahkah aku kalau aku juga ingin didengarkan? salahkah aku ingin mendapat penghiburan kala aku muram? bukan hanya sekedar kata, “ya sudahlah, memang begitumi.”  salahkah aku ingin melihat antusiasmemu pada hal-hal yang aku antusias di dalamnya? mungkin aku hanya sekedar tak tahu cara mengarahkan. atau mungkin aku hanya salah memilih tempat abdi?

aku tak tau, kawan.

aku mengharapkan kau ada di sini saat ini. mendengarkanku. juga melihat apa yang kupusingkan. aku tak bisa berbuat apa2, saat kulihat kau juga sudah sibuk memikirkan begitu banyak hal, tanpa sempat melihatku. tanpa sempat lagi bertanya padaku. salahkah aku bila aku masih mengharapkanmu ada bersamaku? salahkah aku bila aku menginginkanmu bersusah bersamaku.

tapi beginilah aku, kawan. pada akhirnya, bersusah seorang diri. merasa bodoh dan konyol atas air mata yang keluar tak jelas. merasa betul2 tolol untuk sesuatu yang akhirnya hanya menyisakan mata merah dan bengkak, serta sedikit perih di hati. tenang saja, setelah ini kau akan mendapatiku betul2 baik2 saja. tak perlu lagi kau sibuk untukku. sibuklah untuk hal2 lebih penting di luar sana selain aku. sudah cukup bagiku melihatmu baik2 saja. dan sudah cukup bagiku juga tenggelam bersama kesibukanku.

salam,

ilm