Akhir2 ini, saya lebih sering berdebat dalam kepala saya sendiri. Entah karena apa, lebih menyenangkan berdebat dengan prasangka. Saat kita merasa positif, tak kan ada aura negatif yang merusaknya, ketika kita merasa negatif, terus2an negatif saling bertabrakan dan akhirnya meledak keluar.

 

Mungkin masalahnya pada komunikasi. Saya dibesarkan dengan kebebasan. Entah kapan saya diajarkan tentang batasan dalam keluarga. Sebelum saya bisa mengingat, saya seperti sudah bisa memahami apa yang boleh dan apa yang tidak. Ketika saya merasa marah, yang terjadi adalah saya balik dimarahi. Ketika saya sedih, saya ditertawai dan dikatai bodoh. Ketika saya juara, tak ada hadiah khusus. Ketika saya peringkat dua, saya disesali dan diejek.

 

Hey, saya baik2 saja dengan itu semua. Saya belajar untuk menangis sendiri dalam diam, saya belajar untuk menyembunyikan kesal, saya belajar untuk terus menjadi yang terbaik. Saya belajar untuk menyimpan sendiri keseharian yang terlewat seolah tak pernah ada yang istimewa atau pun yang buruk. Mungkin itu membuat saya tampak dingin.

 

Lebih dari apa pun kesemuanya membuat saya menjadi pengamat dan perekam hal-hal. Rincian keseharian yang terlewat terekam jelas di ingatan dan menimbulkan persepsi sendiri. masing-masingnya, saya simpan dalam pikiran saya, saya nikmati sendiri. Saya kurang mempelajari cara untuk bercerita dan menyampaikan. Mungkin, saya lebih bisa dipahami dalam diam saya. Dalam pikiran saya.

 

Apa pun..

Salam hangat selalu untuk semua..

Penghias hariku.. Peramai hidupku..

-iLm-