Posts from the ‘Uncategorized’ Category

LPDP, seberapa susah? – 1 : menggali informasi

Maret 2016

Semua dimulai dari penantian tak berujung. Niat sebenarnya tidak secepat itu. Saya yang aslinya pemalas, masih mau menikmati hidup setelah selesai internsip. Masih fokus untuk tugas lainnya, tujuan hidup lain, target yang lain. Tapi, entah ya, setelah ikut sosialisasi LPDP, liat teman seperjuangan mau berjuang, dan menanti sesuatu yang tidak jelas, saya bergerak.

Hal pertama, tentu menggali informasi. Intinya saya mau sekolah. Bermodal sosialisasi LPDP, ada aturan tertulis, untuk yang ingin melanjutkan beasiswa Spesialis Kedokteran, tidak dibolehkan bagi yang telah memiliki gelar S2/S3. Sementara untuk sekolah S3 boleh-boleh saja dengan gelar spesialis. Saya pun memilih mendaftar beasiswa Spesialis Kedokteran.

Waktu itu, lagi ramai-ramainya info beasiswa. LPDP lagi hangat-hangatnya. Pendaftaran buka sepanjang tahun, tapi tesnya ada 4 batch. Info masih minim. Alhamdulillah, dapat beberapa buku elektronik terkait beasiswa. Sebelum mengumpulkan berkas, sebelum mengisi data di laman beasiswa.lpdp.kemenkeu.go.id, saya membaca 2 buku elektronik tentang beasiswa. Tips yang penting untuk mengisi data:

  1. Isi selengkap-lengkapnya
  2. Isi sebanyak-banyaknya
  3. Isi sejujur-jujurnya
  4. Isi semua prestasi, kegiatan, tanda jasa, penghargaan, penelitian, tiap detail kecil yang telah kita lakukan sepanjang hayat
  5. Jangan mengarang yang tidak ada
  6. Jangan memalsukan data apa pun (sekali mendapat data palsu, selamat datang daftar hitam)

Selain pengisian data pribadi, pastikan juga mengenai tujuan universitas dan program studi. Saat saya mendaftar, masih ada opsi pindah universitas atau pindah program studi. Namun, tetap was was lah. Biarpun masuk daftar LPDP, selalu ada yang namanya prioritas. Selain peringkat universitas, akreditasi program studi, ketersediaan dosen pembimbing, salah satu faktor yang lumayan berpengaruh itu biaya studi. Semakin murah biaya studinya, kemungkinan untuk diterima lebih besar.

Satu lagi yang lumayan menyusahkan saya saat mendaftar adalah, masih minimnya penerima beasiswa spesialis kedokteran untuk dimintai informasi. Saat mendaftar dulu, dari Makassar hanya ada 3 orang peserta beasiswa Spesialis Kedokteran. Alhamdulillah, lulus semua. Terima kasih untuk tulisan di dr Avis yang lumayan banyak menceritakan perjuangan beasiswa spesialis kedokteran.

LPDP itu dinamis sih. Apa yang saya tuliskan hari ini, dibaca oleh orang lain besok, bisa saja berubah. Beberapa yang berbeda misalnya tidak diperbolehkan lagi pindah universitas atau program studi. Peraturan mengenai pendaftar beasiswa Spesialis Kedokteran yang tidak boleh S2/S3 juga saya rasa tidak berlaku. Dll dll.

Meraih mimpi itu tidak ada yang mudah. Selalu penuh perjuangan. Tapi, percaya saja, semua akan indah pada waktunya.

Masih bersambung, ilm

Advertisements

Rokugatsu girls, otanjoubi omedetou

Hai, kalian, kepada siapa yang merasa menjadi objek 😊 saya baru saja scroll melihat dan mencari apa sih yang sy tuliskan tentang kalian? Kalian yang paling tau betapa pikunnya saya dan betapa apatinya saya 🙈

4 Juni 2018, 17 hari yang lalu, saya mengirimkan ucapan dan doa untuk seseorang. Yang kemudian menagih saya tulisan tahunan. 😣 Saya selaku sahabat misquen memang seringkali hanya memberikan hadiah berupa tulisan, nd punya modal kasian 😂😂😂. Lalu saya scroll tulisan lama saya, trus mikir gini, “Oh ya pantas ini anak minta tulisan, tulisan terakhir saya penuh puja puji.” 😆 Masih selalu sebagai princess wanna be. 1 tahun berlalu dan kamu masih menjadi partner setia. Bedanya, tahun ini kondangan yang harus didatangi semakin berkurang (tanda2 kita sudah tua #eh)

Lancar yah, sekolahnya, kamu. Jangan hiraukan pendapat orang, maju ya, terus majuuuu, tegak dan kokoh #eh #apasih. Jangan lelah nanti ditanyai, kapan sekolah, bahkan hingga nanti kamu selesai pun. Kita adalah kumpulan orang galau yang punya keinginan utama tak jua terpenuhi. Tapi kita setrong, kok 😂

Sekarang, 21 Juni 2018

Tulisan terakhir saya tentang kamu itu sangat tidak adil. Sok2 bilang speechless, padahal, somnolen, nd punya tenaga nulis panjang -_- Terakhir kali kita ketemu itu adalah penculikan, hahaha. Tapi singkat sekali 😣

O genki desu ka? I am missing you to the point I almost forget some little things about you. Rindu dengar yuni moro moro. Rindu dengar yuni kasih nasihat. Rindu keliling gajes sama yuni. Rindu heboh dan calla calla nya yuni. Rindu marah marah nya yuni tapi tetap diparutusu’. Rindu yuni yang selalu kuat. Rindu yuni yang selalu berdiri tegak tanpa mengharap bantuan, bahkan ketika seluruh dunia pernah ditolongnya.

Hampir 2 tahun di Hiroshima, saya sudah hampir lupa semuanya, Un. Kalau katanya Dilan, jangan rindu, itu berat. Mekanisme pertahanan terhadap rindu mungkin salah satunya lupa. Tapi saya menolak lupa. Eh, apa sih. Ko liat mi temanmu, yuni, super gajes. Tambah gajes ka kasian hahaha

Yang lancar, tetap strong, tetap sehat, dan jangan lupa bahagia. Be kind always. Like usual when you always have your back for everyone when needed.

Barakallah, gadis2 setrong

Salam, ilm

Berjuang dan kemudian…

Sudah menjadi kebiasaan…
Berjuang sampai akhir
Bekerja dengan detail
Menyelesaikan semua yang bisa diselesaikan

Menyibukkan diri dengan urusan dunia..
Adalah tanda kita masih bernapas
Menunjukkan betapa banyak limpahan rahmat-Nya
Menuntun kita untuk selalu bersyukur
Itu selalu menyenangkan

Saya tipe orang yang selalu berpikiran positif
Mengubah sudut pandang saya menjadi negatif butuh banyak hal
Banyak pengkhianatan, kekecewaan, kesakitan, dan kejutan
Saat semuanya menyatu, selamat apabila kamu berhasil menjadi negatif
Selamat berjuang untuk kembali dalam zona positif, yang tentunya hampir mustahil
Saranku, biarkan waktu membalikkan
Mungkin, kamu akan selamat tiba di zona netral
Saat itu, selamat datang di zona “Kamu pikir kamu siapa”

Saya itu tipe penyendiri
Bekerja sendiri dalam dunia yang saya ciptakan
Nyaman dalam zona pribadi
Bahagia hanya dengan beberapa menit waktu privasi

Bahagiaku sederhana
Menyakitiku tak mudah
Namun, saya perasa
Di sudut kecil hati, sepatah kata bisa menjadi belati
Ketika tak kau sadari katamu setajam pisau, terima kasih telah memberi luka dan membuka kesempatan bagiku melalui proses penyembuhan

Tahukah kamu kesendirian tak berarti kita tak punya masalah?
Tahukah kamu kesibukan dunia tidak hanya berputar padamu?
Tahukah kamu sulitnya berjuang sendirian?

Setelah semua ini, saya menyadari sesuatu
Saya masih diri saya 7 tahun lalu
Yang akan selalu berjuang sendiri
Dan di satu titik, berbalik lari sendirian

Saya tahu ini tidak akan menyelesaikan masalah
Tapi setidaknya, ini bisa menyelamatkan kewarasan saya
Karena ditinggalkan berjuang sendiri selalu mengancam akal sehat

Karena ini hati, bukan batu
#masihberusahajadimanusiakuat

Always, ilm

Blablabla adalah kita

Kita hidup di jaman orang – orang senang mengkritik orang lain, tapi sulit menerima kritik. Kita hidup di jaman orang – orang meminta kita tersenyum, tapi lupa bagaimana cara tersenyum.
Kita hidup di jaman orang – orang meminta untuk dihargai, tapi lupa menghargai orang lain.
Kita hidup di jaman orang – orang berharap dimengerti, tapi tidak berusaha memahami orang lain.

Kita mengeluh orang – orang memandang remeh kita, tapi tidak tahu caranya membuat orang lain mengakui kemampuan kita.
Kita marah orang – orang mengganggu kenyamanan kita, tapi tidak sadar kenyamanan itu palsu.

Kita hidup di jaman berpakaian tertutup dianggap radikal, lalu telanjang dianggap kebebasan.
Kita hidup di jaman hijrah dianggap sok suci, sementara dunia bebas adalah petualangan.

Tidak bisakah kita menjadi penyebar kebaikan? Penular senyum? Perekat ukhuwah?

Masing-masing punya salah, mari kita sama-sama belajar.

Saat kita marah, saat kita kecewa, mungkin sulit untuk menerima pendapat berbeda.
Namun, di hari tenang, saat kita duduk santai ditemani secangkir teh dan biskuit coklat, tak ada salahnya merenung dan mengingat. Ada di titik mana kita sekarang? Kebaikan kah? Keburukan kah?
Jangan malu mengakui keburukan, asalkan kita tau jalan menuju kebaikan.

Jangan pernah lelah berbuat baik.

#selfreminder

Salam, ilm

When November Ends

Saya selalu suka bulan November. 

Lalu tiba-tiba saja bulan ini sudah hari terakhir, yang berarti tahun ini juga akan segera berganti. 

11 17, angka-angka ini selalu menyenangkan bagi saya. Ada banyak doa dalam tiap angka yang terlewat. Selipan harapan yang selalu ingin digapai. 

Bulan ini, tahun ini, saya belajar banyak. Mungkin, doa-doa itu belum terjawab. Mungkin, mimpi-mimpi itu masih terawang-awang. Tapi, ada hal baru yang terus menempa menjadi lebih baik. 

Saya kehilangan sesuatu, atau mungkin meninggalkan sesuatu. Yang tergapai, lalu terlepas. Yang terasa dimiliki, lalu menghilang. 

Ada nama yang dulunya tak dikenal, muncul menjadi asa, lalu meluruh dalam riuh hujan. Ada nama yang dulunya berharga berbagi semua, lalu mengering bersama dedaunan. Ada nama yang dulunya biasa saja, lalu pelan menjadi istimewa. 

Banyak berita bahagia, namun kadang saya lupa bagaimana bereaksi bahagia. Saya lupa apa itu rasa senang. Sedikit demi sedikit, terjebak sesuatu yang tidak pasti. Ah, absurd. 

Kalau saya membandingkan, 9 bulan yang lalu, prioritas utama saya jauh berbeda dengan saat ini. Orang-orang di dalamnya banyak terganti. Mereka yang dulunya saya kira tak akan bisa tertinggal, rupanya bisa dilepaskan. Begitulah hati, mudahnya dibolak-balik. 
Saat hari berganti, apa lagi yang akan datang?

Hmm, siapa yang tau? 
#randomonduty

17-10-17

Selamat tanggal 17 😊

Happy Independence Day! 

17 Agustus 2017

Tanggalnya bagus,  ya?  Hari yang baik untuk penyegaran 😊

Saya selalu suka angka 17, kenapa?  Yah,  karena angkanya bagus hahaha. Alasannya sederhana,  tapi biarlah tak usah diulang-ulang. 

Saya mau mundur sejenak setahun ke belakang.  17 Agustus 2016, mungkin, inilah satu tanggal 17 yang sama sekali tak ada semangat perayaan buat saya.  Sama sekali tidak menyadari tentang upacara bendera, megahnya perayaan kemerdekaan Indonesia,  atau sekedar merayakan tanggal 17 yang datang lagi. Hari sebelumnya, 160816, tanggalnya bagus ya?  Heeh, tidak terlalu buat saya. Kamu tahu salah satu hal paling sulit untuk tenaga medis? “Menyampaikan kabar buruk”. Lebih sulit lagi untuk mendeklarasikan pada keluarga sendiri.  Yang mengenalmu sedari kamu belum bisa mengenali cahaya,  mendidik dan membesarkanmu. 

Ini kali kedua. Kali kedua dan sama sekali tidak membuat saya lebih mahir.  Sedari pagi, yang bisa saya lakukan hanya berjaga dan melakukan hal-hal remeh. Sekedar berkata-kata pun tak mampu. Saya mungkin butuh sedikit sentakan agar sadar. Yah, biarpun sadar,  saya toh tidak bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya hal berguna yang saya lakukan hari itu mungkin hanya keberanian untuk menyatakan “Ndak adami”. Lalu selanjutnya?  Apa ya?  Saya mungkin cuma jadi robot yang mengikuti perintah. 

Kehilangan itu tidak pernah menjadi lebih baik biarpun kita sudah pernah mengalaminya sebelumnya. Teriring doa buat enjuk.  Maaf karena selalu membuat marah.  Maaf tidak bisa bersabar.  Maaf tidak bisa berbuat banyak. Banyak harapan mungkin yang belum terwujud. Terima kasih untuk kasih sayang, ocehan,  ceramah,  petuah,  nasihat,  omelan,  kisah-kisah yang mungkin hanya sepersekian yang benar-benar saya maknai (saya memang nakal 😭). Saya kadang lupa, saat saya sibuk menjadi dewasa dan mengembangkan diri, orang-orang yang mendewasakan saya tak lagi seperti dulu. 

Nah lho,kok jadi begini yah tulisannya -_-

Lanjut ah, setahun lalu juga, 170816, saya punya ponakan baruuu!  Yeay! Dear Attar,  bocil,  perjuangan mama papa mu untuk menghadirkanmu ke dunia itu penuh drama kayak roller coaster.  Mereka orang tua hebat. Kalau suatu saat kamu nyasar ke sini dan membaca ini,  kamu harus tahu, mama papa mu mungkin terkadang terlihat menyebalkan, tapi mereka tetap mama papa terbaik yang kamu punya. Saya pernah bilang kalau saya tidak akan menulis lagi tentang mama mu di sini,  karena ia sudah memasuki babak baru yang sebagian besar tidak saya ketahui dan tidak bisa masuki.  Tapi, 14 tahun mengenalnya, (sangat sebentar dibandingkan waktu yang insya Allah akan kamu lalui ke depannya) setidaknya saya pernah ada dalam satu episode yang dilaluinya, mengenalnya cukup untuk bercerita padamu. Sehat selalu, bocil. Sehat selalu untuk kedua orangtua mu. 

Ah,  setahun ini.  Penuh drama juga sebenarnya.  Ada pertemuan, ada perpisahan. Ada harap, ada kecewa.  Ada kebahagiaan, ada kesedihan.  Ada yang menemukan, ada yang kehilangan. Ada yang meninggalkan, ada yang ditinggalkan.  Ada yang mempertahankan,  ada yang memilih berpisah. 

Hai, kamu. Yang namanya terselip dalam doa. Sehat dan sukses selalu sampai kita bertemu lagi. 
170817

Salam, ilm