Posts from the ‘buang2 pikiran’ Category

I.n.t.r.o.v.e.r.t

Ada kalanya berada di keramaian itu menyenangkan.
Menambah semangat.
Mengeluarkan sisi-sisi lain yang hanya muncul di keramaian.
Saya yakin seorang introvert selalu memiliki hal unik tersembunyi.
Ah, atau mungkin lebih tepat kalau memakai istilah tsundere, keliahatannya diam galak serius menyeramkan, tapi ketika didekati mengeluarkan sisi lain..
Oke, sepertinya semakin absurd. Hahaha

Intinya, ada masanya butuh keluar ke keramaian. Namun, selalu ada tempat dan waktu di mana ingin menikmati kesendirian. Kan?

Advertisements

Kerjaan Iseng

Sebagai orang yang sebagian besar waktunya teranggurkan, saya sempat melakukan kerjaan iseng kemarin. Ndak iseng-iseng amat sih sebenarnya.
Keisengan ini dimulai dari sakit telinga kanan bagian dalam sejak beberapa bulan yang lalu. Awalnya saya kira ada masalah telinga, sampai minta tolong beberapa orang untuk diperiksa. Hasilnya nihil, nd ada apa2 sama telinga saya.
Namun, sedikit demi sedikit, sakit yang awalnya cuma di telinga dalam merangsek ke rahang belakang hingga ke depan. Hilang timbul, hari ini muncul, hilang beberapa hari kemudian. Datang lagi bulan depan, menetap lagi, ilang, datang lagi dalam hitungan minggu, sampai akhirnya tidak hilang-hilang. Kalau lagi konsen sih kadang tidak terasa, tapi kalo lagi kosong bengong melompong, hiks, sakit.
Beberapa bulan sakit, mungkin cuma 3 butir obat yang pernah sy minum: 1 butir paracetamol, 1 butir ibuprofen, dan 1 butir bodrex. Masing2 pernah membantu sy tidur, bukan karena menghilangkan rasa sakit, tapi entah kenapa lebih ke membuat saya mengantuk. Hahaha.
Akhirnya, sy iseng ke dokter gigi. Dari sistem rujuk merujuk yang panjangnya luar biasa, saya dilayani kira2 5 dokter gigi. 1 dokter gigi puskesmas sombaopu, 2 dokter gigi rsud syekh yusuf, 1 dokter gigi rsud labuang baji, dan 1 dokter gigi pusat pelayanan kesehatan gigi makassar.
Dari kelima dokter di atas, tidak ada yang pelayanannya tidak memuaskan, terlepas dari jaminan kesehatan yang iseng saya pakai dan profesi saya. Dari lima orang dokternya, cuma satu yang akhirnya tahu profesi saya, sengaja memang, biar isengnya ndak bikin malu profesi 😀 Terima kasih banyak ya dok untuk semua bantuannya. Walau belum sembuh, setidaknya saya jadi tau causa sakit saya dan tidak mengawang2 harus ngapain lagi.

Oke, sedikit kesimpulan dari perjalanan iseng saya mengenai pelayanan kesehatan yang saya terima sebagai pasien “biasa”. Pelayanannya cukup memuaskan. Mungkin bisa lebih baik apabila sistem di dalamnya lebih diperbaiki. Termasuk kejelasan mekanisme rujukan dan lamanya waktu tunggu terbuang sia-sia. Selama ini, saya taunya melayani dan masa bodoh dengan sistem, cuma bisa bilang, “kasiannya, lamanya menunggu”, tapi, setelah merasakan sendiri, saya tau apa yang bisa saya lakukan adalah setidaknya mendengarkan dengan baik keluh kesah pasien, memberi saran terbaik, dan mencari tau mekanisme layanan dengan jaminan sebaik-baiknya. Jangan bermuka masam, cobalah untuk selalu tersenyum, karena senyum adalah obat tersendiri. 
Nb: special thanks untuk drg. yang mendengarkan cerita dan keluhan saya secara keseluruhan, mencarikan solusi terbaik tanpa memasang tampang bosan ataupun lelah, bahkan sama sekali tidak memberi kesan “tidak ingin mendengar lagi” saat saya terus bercerita. Tanpa tau profesi saya, saya mendapatkan pelayanan terbaik di tengah sistem yang aneh.
Oh iya, terima kasih untuk pemerintah untuk program layanan kesehatan gratisnya, walau pencairan dana untuk pemberi yankes lebih sering mandek, sebagai pasien, saya cukup berterima kasih.

Salam, ilm

Boleh saja kecewa pada diri sendiri dengan perolehan nilai 9 dari 10. Tapi jangan lupa memuji orang lain yang memperoleh nilai 6 setelah berusaha sekuat tenaga.

Tiap orang punya keistimewaan masing-masing.

Kan?

Foto

image

Saya pertama kali baca ini beberapa tahun lalu. Waktu itu media sosial yang lagi booming kalo nda salah facebook. Itu juga pertama kali saya punya hape yang ada kameranya. Kayaknya saya pernah hobi foto selfie yang sudutnya selalu sama karena merasa itu yang paling bagus XD. Dan saya ingat, saya masih punya koleksi foto jaman itu. Beberapa ada yang pernah terupload di facebook, yang segera saya hapus satu-persatu setelah baca ini. Masa itu hal yang bikin saya cepat-cepat menghapus semua foto saya juga karena saya melihat fenomena orang-orang yang mensave foto orang lain yang disukai dari media sosial buat dijadikan koleksi. Bukan sekedar koleksi sih, pengobat rindu mungkin. Saya memang tidak punya penggemar, tapi yah, tidak ada salahnya kan berjaga-jaga. Setelah dipikir-pikir, saya tidak nyaman kalo ada yang menyimpan foto saya, mengamati saya, mengagumi (?) saya, kira-kira begitulah, mudah2an ada yang mengerti XD Rasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian? Nah, itu mungkin. Apa yang ada di diri saya bukan untuk dinikmati banyak orang.
Tapi, bahkan ketika saya tidak menampilkan foto apa pun, orang-orang punya caranya sendiri untuk mengekspresikan kekaguman (?). Cara-cara aneh bagi saya yang akhirnya membuat saya mengganti nama akun media sosial yang awalnya nama lengkap menjadi nama panggilan. Bahkan sampai menutup media sosial saya dan lahirlah blog ini. Saya pernah bilang dulu, di awal saya membuat blog, tempat ini pelarian, dan sampai sekarang saya masih hobi lari XD.
Dengan semakin maraknya media sosial sekarang, bukan tidak mungkin saya khilaf. Apalagi membagikan foto dan keindahan lain sekarang jadi tambah gampang dengan adanya smartphone. Anggap saja tulisan ini sebagai pengingat. Pengingat biar saya tidak sembarangan share foto lagi. Termasuk lewat jalur pribadi karena jalur pribadi tidak selamanya memiliki akses pribadi. Terima kasih untuk orang-orang yang mengajarkan saya ini.
Buat saudariku yang cantik-cantik, saya penyuka keindahan, kadang melihat foto-foto yang cantik-cantik itu memberikan kebahagiaan tersendiri bagi saya. Ini hanya saya, saya perempuan normal. Kira-kira apa dampak kecantikan yang diumbar buat kaum lelaki? Rejeki atau berkah mungkin ya? Pandangan pertama iya, yang selanjutnya? Wallahu alam.
Yah, bagaimana pun, semuanya itu kembali lagi ke niat. Membagikan hal-hal indah lewat media sosial memang tidak ada salahnya. Tanpa niat pamer atau apapun namanya. Tapi, yang dibagikan itu bisa disalahgunakan tergantung niat yang melihat, kan?

Yes, I am

image

Menurutmu, apa yang ada di pikiran orang-orang yang menulis dan membagikan ini pada dunia? Seberapa bahagia kah mereka saat menulisnya? Atau adakah rasa lain selain “cinta” pada pekerjaannya?

Bagiku, membagikan ini pada dunia, sama seperti mencambuk diri sendiri. Karena di dunia nyata, tidak semudah itu merasakan dan menyatakan kecintaan pada pekerjaan. Penulis paling handal dan penuh imajinasi pun bisa terkena writer’s block, menurutmu, saat kamu bekerja dan tak pernah tidur serta libur, digaji pun seenaknya, kamu akan benar-benar baik-baik saja? Ada sesuatu yang akan membuat kita butuh menyatakan dan membagikan kata-kata seperti di atas, agar kita ingat, mengapa kita mengerjakan apa yang kita kerjakan saat ini, agar kita ingat, bagaimana kita mencintai apa yang kita kerjakan saat ini.

Mungkin bukan sekarang, karena tak selamanya kita tidak tidur, tidak libur, dan tidak digaji. Mungkin, itu adalah kata tolong sekaligus bantuan yang diberikan diri sendiri. Hingga saatnya tiba kita benar-benar tidur, tidak libur, tidak digaji, kita masih bisa berkata, “Ya, ini pekerjaan saya. Dan saya mencintai apa yang saya kerjakan.”

Doa

Saat semua jalan sepertinya tertutup.
Saat semua cara sepertinya gagal.
Saat semua harapan tak terjawab.
Saat semua kepercayaan berakhir khianat.
Saat semua mimpi terbangun kecewa.

Saat itu mungkin Allah sedang rindu padamu.
Ia rindu melihatmu menangis sambil bersujud.
Ia rindu mendengarkan curahan hatimu.
Ia rindu menjadi satu-satunya tempatmu berserah.

Ia mungkin terlalu lama cemburu dengan social media yang kau buka sejak pertama kali bangun pagi dan kau tutup saat kau ingin tidur.
Ia cemburu pada social media yang kau titipkan doa.
Ia cemburu pada social media yang kamu bagikan dan disukai banyak orang.
Padahal, doa dan harapan itu untuk dibagi pada-Nya.
Doa dan harapan bukan untuk diumbar.
Jangan sampai begitu banyak yang mengaminkan doa kita, namun doanya tak sampai pada-Nya.

#randomthought

Hurts

Cerita keajaiban dan penyelamatan luar biasa lewat resusitasi jantung paru.. Cerita kehidupan kedua setelah henti nafas henti jantung..
Apa iya cuma ada d film?
Seberapa banyak d dunia nyata itu berhasil?
Walau dihadapkan dengan kenyataan lebih banyak gagal. Bahkan tidak pernah menyaksikan yang benar-benar berhasil.
Saya tetap berharap, tiap kali dihadapkan keadaan seperti ini, akan ada keajaiban. Bahwa Tuhan belum mau memanggil mereka ke sisi-Nya.
Maka selalu ada sakit saat keajaiban itu tak terjadi.
Ada saat merasa tak berguna, lalu ada saat penerimaan bahwa ini jalan-Nya.
Tapi..
Tetap saja..
Rasanya sakit..
Merasa bodoh..
Tapi tidak bisa berhenti..
Untuk pekerjaan ini..
Saya berharap tetap aware..
Untuk jadi lebih baik..
Ganbarou, ilm #cheers