Ada banyak ragam kebaikan. Tidak semuanya bisa diterima dengan baik. Ketika kita berbuat begitu banyak hal baik, mungkin hanya sepersekian yang dihargai. Sisanya? Dicatat di buku amalan kebaikan.

Namun, tidak semua sesuatu yang dilakukan dengan niat baik berakhir baik. Niat baik saat dieksekusi dengan cara yang salah, yah, jangan salahkan orang-orang yang muak dengan kebaikan.

Menikah itu baik, kan? Apakah orang-orang yang didesak dan dibantu menikah itu semuanya senang? Saya rasa tidak. Sebagian besar orang akan berkata, “Please, just leave me alone!” Karena bahagia tidak harus diraih dengan menikah. Juga, tidak semua orang yang menikah itu bahagia. Kapan harus menikah? Well, jangan tanya saya. Kesiapan orang untuk menikah memangnya ditentukan sama siapa?

Sama seperti kebaikan lain, tidak semua menanggapi pernikahan sebagai hal positif. Apalagi ketika ranah pribadinya direcoki, terganggu? Yah, wajar sih. Tapiiiii, kenapa kita tidak menyambut kebaikan dengan lebih positif? Memangnya salah ya kalau ada orang tua yang peduli sama anaknya yang belum menikah? Memangnya salah kalau ada orang yang ingin dibangunkan rumah di surga dengan memudahkan niat baik seseorang untuk menikah? Bisakah kita memperlakukan orang-orang itu dengan baik dan bukannya menjauh dan semakin menyibukkan diri?

Berbuat baik itu mudah, menerima niat baik orang mungkin lebih sulit.

Tidak perlu tampak baik untuk berbuat kebaikan. Hmm.. alangkah baiknya apabila kita berbuat kebaikan dengan tetap menjadi baik. Ada yang bilang, boleh saja kamu merokok, bergaya urakan, berkata kasar, menyinisi orang lain, selama kamu bisa membuktikan kamu adalah orang yang hebat dan dapat bermanfaat. Well, kenapa tidak menjadi pribadi yang baik dan disenangi, menjaga kesehatan, berkata baik, juga sekaligus hebat dan bermanfaat?

Apalah apalah.