Sebagai orang yang sebagian besar waktunya teranggurkan, saya sempat melakukan kerjaan iseng kemarin. Ndak iseng-iseng amat sih sebenarnya.
Keisengan ini dimulai dari sakit telinga kanan bagian dalam sejak beberapa bulan yang lalu. Awalnya saya kira ada masalah telinga, sampai minta tolong beberapa orang untuk diperiksa. Hasilnya nihil, nd ada apa2 sama telinga saya.
Namun, sedikit demi sedikit, sakit yang awalnya cuma di telinga dalam merangsek ke rahang belakang hingga ke depan. Hilang timbul, hari ini muncul, hilang beberapa hari kemudian. Datang lagi bulan depan, menetap lagi, ilang, datang lagi dalam hitungan minggu, sampai akhirnya tidak hilang-hilang. Kalau lagi konsen sih kadang tidak terasa, tapi kalo lagi kosong bengong melompong, hiks, sakit.
Beberapa bulan sakit, mungkin cuma 3 butir obat yang pernah sy minum: 1 butir paracetamol, 1 butir ibuprofen, dan 1 butir bodrex. Masing2 pernah membantu sy tidur, bukan karena menghilangkan rasa sakit, tapi entah kenapa lebih ke membuat saya mengantuk. Hahaha.
Akhirnya, sy iseng ke dokter gigi. Dari sistem rujuk merujuk yang panjangnya luar biasa, saya dilayani kira2 5 dokter gigi. 1 dokter gigi puskesmas sombaopu, 2 dokter gigi rsud syekh yusuf, 1 dokter gigi rsud labuang baji, dan 1 dokter gigi pusat pelayanan kesehatan gigi makassar.
Dari kelima dokter di atas, tidak ada yang pelayanannya tidak memuaskan, terlepas dari jaminan kesehatan yang iseng saya pakai dan profesi saya. Dari lima orang dokternya, cuma satu yang akhirnya tahu profesi saya, sengaja memang, biar isengnya ndak bikin malu profesi 😀 Terima kasih banyak ya dok untuk semua bantuannya. Walau belum sembuh, setidaknya saya jadi tau causa sakit saya dan tidak mengawang2 harus ngapain lagi.

Oke, sedikit kesimpulan dari perjalanan iseng saya mengenai pelayanan kesehatan yang saya terima sebagai pasien “biasa”. Pelayanannya cukup memuaskan. Mungkin bisa lebih baik apabila sistem di dalamnya lebih diperbaiki. Termasuk kejelasan mekanisme rujukan dan lamanya waktu tunggu terbuang sia-sia. Selama ini, saya taunya melayani dan masa bodoh dengan sistem, cuma bisa bilang, “kasiannya, lamanya menunggu”, tapi, setelah merasakan sendiri, saya tau apa yang bisa saya lakukan adalah setidaknya mendengarkan dengan baik keluh kesah pasien, memberi saran terbaik, dan mencari tau mekanisme layanan dengan jaminan sebaik-baiknya. Jangan bermuka masam, cobalah untuk selalu tersenyum, karena senyum adalah obat tersendiri. 
Nb: special thanks untuk drg. yang mendengarkan cerita dan keluhan saya secara keseluruhan, mencarikan solusi terbaik tanpa memasang tampang bosan ataupun lelah, bahkan sama sekali tidak memberi kesan “tidak ingin mendengar lagi” saat saya terus bercerita. Tanpa tau profesi saya, saya mendapatkan pelayanan terbaik di tengah sistem yang aneh.
Oh iya, terima kasih untuk pemerintah untuk program layanan kesehatan gratisnya, walau pencairan dana untuk pemberi yankes lebih sering mandek, sebagai pasien, saya cukup berterima kasih.

Salam, ilm

Advertisements