Archive for April, 2015

Represif

Semua akan baik-baik saja, besok akan ceria lagi, mungkin bisa ketawa lagi

Sudah berapa kali mengatakan ini pada diri sendiri, di berbagai kondisi unmood, berbagai penyebab, berbagai hal.. Dan selalu menyebalkan ketika hal-hal yang direpresikan itu meledak.

Cara paling ampuh untuk tidak mengusik “represi-an” itu adalah segera menghilangkan segala hal yang bisa mengingatkannya..

Sabar, il..
Ah, apa ini masih waktu bersabar? Saya sendiri sudah bingung..

Foto

image

Saya pertama kali baca ini beberapa tahun lalu. Waktu itu media sosial yang lagi booming kalo nda salah facebook. Itu juga pertama kali saya punya hape yang ada kameranya. Kayaknya saya pernah hobi foto selfie yang sudutnya selalu sama karena merasa itu yang paling bagus XD. Dan saya ingat, saya masih punya koleksi foto jaman itu. Beberapa ada yang pernah terupload di facebook, yang segera saya hapus satu-persatu setelah baca ini. Masa itu hal yang bikin saya cepat-cepat menghapus semua foto saya juga karena saya melihat fenomena orang-orang yang mensave foto orang lain yang disukai dari media sosial buat dijadikan koleksi. Bukan sekedar koleksi sih, pengobat rindu mungkin. Saya memang tidak punya penggemar, tapi yah, tidak ada salahnya kan berjaga-jaga. Setelah dipikir-pikir, saya tidak nyaman kalo ada yang menyimpan foto saya, mengamati saya, mengagumi (?) saya, kira-kira begitulah, mudah2an ada yang mengerti XD Rasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian? Nah, itu mungkin. Apa yang ada di diri saya bukan untuk dinikmati banyak orang.
Tapi, bahkan ketika saya tidak menampilkan foto apa pun, orang-orang punya caranya sendiri untuk mengekspresikan kekaguman (?). Cara-cara aneh bagi saya yang akhirnya membuat saya mengganti nama akun media sosial yang awalnya nama lengkap menjadi nama panggilan. Bahkan sampai menutup media sosial saya dan lahirlah blog ini. Saya pernah bilang dulu, di awal saya membuat blog, tempat ini pelarian, dan sampai sekarang saya masih hobi lari XD.
Dengan semakin maraknya media sosial sekarang, bukan tidak mungkin saya khilaf. Apalagi membagikan foto dan keindahan lain sekarang jadi tambah gampang dengan adanya smartphone. Anggap saja tulisan ini sebagai pengingat. Pengingat biar saya tidak sembarangan share foto lagi. Termasuk lewat jalur pribadi karena jalur pribadi tidak selamanya memiliki akses pribadi. Terima kasih untuk orang-orang yang mengajarkan saya ini.
Buat saudariku yang cantik-cantik, saya penyuka keindahan, kadang melihat foto-foto yang cantik-cantik itu memberikan kebahagiaan tersendiri bagi saya. Ini hanya saya, saya perempuan normal. Kira-kira apa dampak kecantikan yang diumbar buat kaum lelaki? Rejeki atau berkah mungkin ya? Pandangan pertama iya, yang selanjutnya? Wallahu alam.
Yah, bagaimana pun, semuanya itu kembali lagi ke niat. Membagikan hal-hal indah lewat media sosial memang tidak ada salahnya. Tanpa niat pamer atau apapun namanya. Tapi, yang dibagikan itu bisa disalahgunakan tergantung niat yang melihat, kan?

Move On

Final yah, il. Ndak bisa balik lagi. Sudah saatnya maju dan ndak nengok lagi ke belakang. Insya Allah dikasih jalan yang terbaik buat kamu dan mereka yang lagi-lagi akan kamu abaikan. Aamiin.

Yume

Allah paling tahu keinginan terbesarku sekarang..
May Allah grant all our wishes..
Aamiin..

Be better day by day..
Ganbarou.. #yahoo