Hari ini, tiba – tiba saja ada film yang terputar dalam memori. Film yang rasanya sudah sejak lama saya lupakan. Bukan karena tak ingin mengingat, hanya saja, ada begitu banyak hal yang harus tersimpan dalam memori.

Film ini tentang kamu. Tentang kita.

Kamu ingat, di mana kita pertama kali bertemu? Aku tidak.

Lalu, apakah itu penting?

Yang aku simpan dalam memori ku adalah tiap – tiap kata “nasehat” yang kamu lontarkan. Kata yang sering sekali kuanggap angin lalu, tak mau mengakui kamu lebih bisa dan tau hal – hal daripada aku.

Ah, aku memang keras kepala. Sejak kecil, tidak ada kata kalah bagiku dalam berdebat. Karena itu, tiap perdebatan kita, walau tau aku salah, aku tak akan mengakuinya. Bagaimana pun caranya, aku akan membuatmu mengatakan, “Baiklah, sudah. Aku mengerti.” Lalu aku akan memberimu senyum kemenangan yang sering kau bilang “jelek” itu. Tapi aku senang, karena walau kau mengataiku jelek, tak urung kau mengelus kepalaku lembut. Rasanya tidak ada masalah yang berputar saat sedang bersamamu.

Kita memang jarang bersama. Hanya sekali – kali di sela jadwal kegiatan yang padat, hanya sekali – kali saling menghubungi di sela kesendirian, hanya sekali pergi bersama tanpa tujuan. Tapi, tiap kali itu, adalah hal yang paling menyenangkan sekaligus menyakitkan.

Sakit lho, saat kita dekat tapi jauh. Saat kita saling melihat, tapi tak terlihat. Tapi aku mengerti, karena peinsip yang kita pegang memang aneh. Bahkan saat ada kata komitmen, kita terlalu kikuk untuk saling mengakui. Atau, itu hanya aku yang memasang tembok?

Lalu suatu saat, aku lelah. Mungkin kamu sudah jauh lebih dulu lelah dariku. Tak ada lagi semangat untuk mencarimu, sekedar untuk mencuri pandang di celah sempit waktu kita. Lalu suatu saat aku mengerti, kamu sudah bukan lagi bagian dari cerita ini.

Saat kamu memanggilku hari itu, aku tahu, ini saat perpisahan kita. Sudah waktunya kita saling melepas. Aku bisa merasakan rasa frustrasimu saat mengatakan harus pergi. Terlebih saat aku tak ada tanda ingin menahanmu. Aku tak berkata pisah atau apa pun, hanya mengatakan, “pergilah” sembari melepas cincin yang pernah kau berikan. Cincin itu kau pakaikan kembali, sembari berkata, “Pakailah, hingga suatu saat cincin itu pergi darimu tanpa kau sadari. Itu artinya, aku melepaskanmu.”

Aku mengerti. Tak ingin lagi berdebat tentang betapa mustahilnya cincin benda mati ini pergi dengan sendirinya. Lalu kita berpisah. Itu adalah kali terakhir aku melihatmu.

Cincinnya? Ah, sudah lama dia pergi dariku. Memang benar, entah bagaimana, aku sendiri lupa, cincin itu sudah tak lagi jadi bagian hidupku.

———————————————————————————————————————–

Nb: ini semua fiksi

Advertisements