Archive for October, 2010

Sibukmu, Ceriamu, Empatimu

Menjadi seseorang yang punya banyak kesibukan itu anugerah. Menurutku, ya. Tetap sibuk dan tetap ceria  di segala kesempatan, itu berkah. Tetap sibuk, ceria, dan empati pada dunia sekitarnya, itu rahmat.

Sebagian orang mengatakan hal-hal di atas itu pilihan, bagiku, bisa mendapatkan semuanya itu rahmat dan tak lepas dari tangan Yang Kuasa. Tak mudah untuk tetap berkutat dengan begitu banyak pekerjaan, yang mungkin masing – masingnya memiliki masalah, masing – masingnya butuh diperhatikan, dan tak pernah menunjukkan wajah muram. Jadi, Aku mengagumi mereka yang senantiasa tersenyum, selalu ada dengan semangatnya untuk dibagi, dan selalu ceria dengan tawa lepasnya.

Aku ingin membagi senyumku pada semua orang, aku ingin semangatku tertular pada semua. Namun, biar bagaimana pun juga, aku manusia biasa, jelas tak bisa mengerjakan semua. Ada hal-hal yang kupelajari dari berbagai dunia yang kumasuki, pertama: dunia itu luas, selalu ada hal-hal lain di luar yang senantiasa menyajikan diri untuk disantap, kedua: tidak semua hal bisa diselesaikan sendiri, kita akan selalu butuh bantuan untuk menyelesaikan tugas, ketiga: selalu yakin semuanya bisa selesai, berpikiran positiflah, maka hal-hal positif akan datang padamu, keempat: tinggikan ambang stres, jangan sedikit2 pusing, sedikit2 badmood, sedikit2 marah, sedikit2 nangis, hehehe (curhat).

Aku menulis ini, di sela-sela (sok) sibuk , dari hasil pengamatan atas kesibukan orang2 di sekitarku, ditambah sedikit curahan hati. Walau tidak jelas, semoga bermanfaat.

Salam,

ilm

Advertisements

Si BenDi

Si BenDi.. Ini nama mading LPM Sinovia yang dibikin di sela-sela kegilaan atas berbagai urusan, kepanitiaan, dan tetek bengek organisasi. Waktu itu, kita kayak anak pingit yang tiba-tiba dikasih hari bebas satu hari dan akhirnya menggila dan lahirlah Si BenDi ini. (thanks buat kanda yang sudah kasih kebebasan^^)

Si BenDi itu singkatan super maksa dari SInovia BErita DInding atau dengan kata lain majalah dindingnya Sinovia. Sebenarnya, mading ini sudah pernah terbit beberapa kali semasa magang anggota muda Sinovia. Tapi, waktu itu masih mading kayu yang tidak pake kaca dan masih bisa dirusak-rusak seenaknya sama orang luar. Akhirnya, atas keprihatinan saya terhadap mading Sinovia yang tampaknya tidak terurus ini, juga atas keinginan koordinator mading saya tercinta, Darayani Dina, beserta usulan dari anggota, saya pun mengajukan proposal ke Pemimpin Umum (PU) dan Bendahara Umum (Bendum) untuk membeli sebuah mading kaca berbingkai aluminium. (Juga atas kerinduan sama Mata 17, jadi mau bikin mading kayak punyanya Mata, hehehe. secara koor. Mading + Buletin [Dina+Yuri] yang bertanggung jawab sama mading itu lulusan Mata 17 semua;p)

Akhirnya, setelah perjalanan panjang meminta persetujuan atas proposal mading (thanks buat PU ku yang dengan senang hati membebaskan kami dari redaksi berekspresi), juga usaha pembujukan Bendahara yang sangat malas mengambil uang di ATm (gara2 ATMnya tidak ada di kampus atau pun pusat perbelanjaan terdekat-red:mall) jadilah kita membeli mading baru dengan harga Rp ******,- (makasih juga Bendum ku tercinta, Lia Rifana Thamrin:)) .

Mading ini, setelah sempat beberapa hari teronggok di bilik kecil, akhirnya dipasang perdana dengan menempelkan gabus + karton + tulisan Coming Soon Si BenDi Sinovia. Bukannya kreatif atau sok-sok bikin penasaran, cuman, ngeri naruh madingnya lama-lama di bilik, takut pecah, hehehe.

Biar tulisan coming soon nya nda kelamaan, akhirnya kita rapat sama-sama teamwork mading + buletin. Jadilah ide yang memang sudah dipikir2 sebelumnya tentang edisi narsis perkenalan pengurus Sinovia. Backgroundnya kertas putih yang ditandatangani/dicorat-coreti, trus kertas artikelnya pake kertas jeruk purut warna kuning (pake hak kuasa PimRed;p), judul artikelnya bentuk PDH (tapi yang dibikin jadinya PDHnya kebagusan;p), trus diisi juga sama foto2 narsis dari masa ke masa. Nda bisa berhenti ketawa waktu itu, berasa muda lagi, balik ke masa2 SMA, bikin mading. Setelah bagi2 tugas, ditetapkanlah Deadline untuk nempel itu hari Sabtu (waktu untukbekerja kira2 seminggu), dan untuk buletin sebaiknya bisa diterbitkan paling lambat 2 minggu setelah tanggal rapat.

Maka mulailah para pengurus ini bernarsis ria bekerja dengan giat. Menyebarkan jarkom anggota, membeli bahan, mengumpulkan anggota divisi, dan foto bersama. Namun, pada akhirnya, seperti biasa Deadline tinggal deadline. Untungnya Deadline cuma “garis” mati, coba kalo golok, lewat, mati beneran, deh. Nempel tertunda ke esok harinya. Esoknya, lagi2, batal. Maka mulailah para pekerja ini terkena serangan panik. Pulsa lebih banyak terbuang, tenaga lebih banyak terkuras, hingga diputuskan untuk mencoba lagi penempelan mading di hari Rabu. Walau akhirnya batal (lagi), kita jadinya foto untuk Behind d’ scene.

 

Hari ini, akhirnya berhasil juga benar-benar menempel dengan gemilang. Thanks banget banget banget untuk koor. madingku tersayang, Dheyna si Kupu2, atas ide2 cemerlangnya, saya tau saya tidak salah pilih, juga atas tangan2 kreatif Yuri, serta kegilaan semua keluarga kecilku di Sinovia untuk mengisi Si BenDi. Walau masih banyak kekurangan di sana-sini (artikel ilang, artikel nyasar ke laporan, foto2 yang masih kurang), toh akhirnya Si BenDi jadi juga.

Buat semuanya, kanda2ku, adik2ku, keluargaku, civitas academica, ini persembahan kecil kami untuk meramaikan dan mewarnai hari2 di Fakultas Kedokteran yang biasanya penuh dengan buku2 tebal. Semoga bisa menyegarkan.

This slideshow requires JavaScript.

Salam,

Sino 10-35

bingung

aku selalu ingin tersenyum, menikmati waktu yang terlewat..

pun ingin menangis, melihat hal yang terlupa..

tapi aku selalu tahu setelahnya semuanya kan baik saja..

karena..

 

kau ada di sisiku

^^

Boleh pinjam bahu, nda?

Rindu (2)

aku rindu kamu,

juga tingkahmu yang memberiku tawa

aku rindu kamu,

juga ujarmu yang alihkan duniaku

aku rindu kamu,

juga aura positifmu yang tertular padaku

aku rindu kamu,

untuk memenuhi pikiranku dengan riang

kamu di mana, sih?

ternyata saya orang jahat

selama ini saya merasa saya bukan orang jahat, tapi ternyata justru di mata orang yang saya sayangi, yang bahkan setelah saya bersikap tak peduli pun tetap bisa membuat saya merasa badmood saat melihat sesuatu yang aneh pada dia, saya tampak sebagai orang jahat. padahal, saya menghabiskan begitu banyak waktu untuk memikirkannya, walau sebenarnya itu pada akhirnya tak berguna, karena toh dia tak pernah menghabiskan waktu untuk memikirkan saya. seluruh tenaganya habis untuk hal-hal yang dicintainya, untuk orang yang disayanginya, dan itu tidak termasuk saya dan dunia saya.

saya lelah. saya tidak mau jadi orang jahat. tapi toh saya sudah diangap jahat. lebih baik saya benar-benar berhenti menggubrisnya. ya, saya tidak akan menangis lagi untuknya. saya tidak mau lagi peduli. sudah, cukup. selesai.

jejak-jejak pernak-pernik

kutulis ini sebagai jejak untuk serpihan hati yang telah kusimpan. kuharap dengan serpihan hati ini aku bisa lebih lapang dan menerima segalanya. toh, tidak semua bisa kita miliki dan tidak selamanya kita bisa bersama.

kukirimkan salam untuk pemilik serpihan hatiku ini, kuharap, kau bisa bahagia dengan duniamu, bersedih dengan diammu, dan berkorban untuk puasmu. semoga dengan ini aku bisa berdamai denganmu.