When November Ends

Saya selalu suka bulan November. 

Lalu tiba-tiba saja bulan ini sudah hari terakhir, yang berarti tahun ini juga akan segera berganti. 

11 17, angka-angka ini selalu menyenangkan bagi saya. Ada banyak doa dalam tiap angka yang terlewat. Selipan harapan yang selalu ingin digapai. 

Bulan ini, tahun ini, saya belajar banyak. Mungkin, doa-doa itu belum terjawab. Mungkin, mimpi-mimpi itu masih terawang-awang. Tapi, ada hal baru yang terus menempa menjadi lebih baik. 

Saya kehilangan sesuatu, atau mungkin meninggalkan sesuatu. Yang tergapai, lalu terlepas. Yang terasa dimiliki, lalu menghilang. 

Ada nama yang dulunya tak dikenal, muncul menjadi asa, lalu meluruh dalam riuh hujan. Ada nama yang dulunya berharga berbagi semua, lalu mengering bersama dedaunan. Ada nama yang dulunya biasa saja, lalu pelan menjadi istimewa. 

Banyak berita bahagia, namun kadang saya lupa bagaimana bereaksi bahagia. Saya lupa apa itu rasa senang. Sedikit demi sedikit, terjebak sesuatu yang tidak pasti. Ah, absurd. 

Kalau saya membandingkan, 9 bulan yang lalu, prioritas utama saya jauh berbeda dengan saat ini. Orang-orang di dalamnya banyak terganti. Mereka yang dulunya saya kira tak akan bisa tertinggal, rupanya bisa dilepaskan. Begitulah hati, mudahnya dibolak-balik. 
Saat hari berganti, apa lagi yang akan datang?

Hmm, siapa yang tau? 
#randomonduty

Advertisements

17-10-17

Selamat tanggal 17 😊

Happy Independence Day! 

17 Agustus 2017

Tanggalnya bagus,  ya?  Hari yang baik untuk penyegaran 😊

Saya selalu suka angka 17, kenapa?  Yah,  karena angkanya bagus hahaha. Alasannya sederhana,  tapi biarlah tak usah diulang-ulang. 

Saya mau mundur sejenak setahun ke belakang.  17 Agustus 2016, mungkin, inilah satu tanggal 17 yang sama sekali tak ada semangat perayaan buat saya.  Sama sekali tidak menyadari tentang upacara bendera, megahnya perayaan kemerdekaan Indonesia,  atau sekedar merayakan tanggal 17 yang datang lagi. Hari sebelumnya, 160816, tanggalnya bagus ya?  Heeh, tidak terlalu buat saya. Kamu tahu salah satu hal paling sulit untuk tenaga medis? “Menyampaikan kabar buruk”. Lebih sulit lagi untuk mendeklarasikan pada keluarga sendiri.  Yang mengenalmu sedari kamu belum bisa mengenali cahaya,  mendidik dan membesarkanmu. 

Ini kali kedua. Kali kedua dan sama sekali tidak membuat saya lebih mahir.  Sedari pagi, yang bisa saya lakukan hanya berjaga dan melakukan hal-hal remeh. Sekedar berkata-kata pun tak mampu. Saya mungkin butuh sedikit sentakan agar sadar. Yah, biarpun sadar,  saya toh tidak bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya hal berguna yang saya lakukan hari itu mungkin hanya keberanian untuk menyatakan “Ndak adami”. Lalu selanjutnya?  Apa ya?  Saya mungkin cuma jadi robot yang mengikuti perintah. 

Kehilangan itu tidak pernah menjadi lebih baik biarpun kita sudah pernah mengalaminya sebelumnya. Teriring doa buat enjuk.  Maaf karena selalu membuat marah.  Maaf tidak bisa bersabar.  Maaf tidak bisa berbuat banyak. Banyak harapan mungkin yang belum terwujud. Terima kasih untuk kasih sayang, ocehan,  ceramah,  petuah,  nasihat,  omelan,  kisah-kisah yang mungkin hanya sepersekian yang benar-benar saya maknai (saya memang nakal 😭). Saya kadang lupa, saat saya sibuk menjadi dewasa dan mengembangkan diri, orang-orang yang mendewasakan saya tak lagi seperti dulu. 

Nah lho,kok jadi begini yah tulisannya -_-

Lanjut ah, setahun lalu juga, 170816, saya punya ponakan baruuu!  Yeay! Dear Attar,  bocil,  perjuangan mama papa mu untuk menghadirkanmu ke dunia itu penuh drama kayak roller coaster.  Mereka orang tua hebat. Kalau suatu saat kamu nyasar ke sini dan membaca ini,  kamu harus tahu, mama papa mu mungkin terkadang terlihat menyebalkan, tapi mereka tetap mama papa terbaik yang kamu punya. Saya pernah bilang kalau saya tidak akan menulis lagi tentang mama mu di sini,  karena ia sudah memasuki babak baru yang sebagian besar tidak saya ketahui dan tidak bisa masuki.  Tapi, 14 tahun mengenalnya, (sangat sebentar dibandingkan waktu yang insya Allah akan kamu lalui ke depannya) setidaknya saya pernah ada dalam satu episode yang dilaluinya, mengenalnya cukup untuk bercerita padamu. Sehat selalu, bocil. Sehat selalu untuk kedua orangtua mu. 

Ah,  setahun ini.  Penuh drama juga sebenarnya.  Ada pertemuan, ada perpisahan. Ada harap, ada kecewa.  Ada kebahagiaan, ada kesedihan.  Ada yang menemukan, ada yang kehilangan. Ada yang meninggalkan, ada yang ditinggalkan.  Ada yang mempertahankan,  ada yang memilih berpisah. 

Hai, kamu. Yang namanya terselip dalam doa. Sehat dan sukses selalu sampai kita bertemu lagi. 
170817

Salam, ilm

Sedikit tentang… 

Hai, 

Kamu..  Iya,  kamu..  

Kamu yang sedang menyibukkan diri..

Semoga sibukku dan sibukmu menjadi jalan untuk mendekatkan..

Mungkin sulit untuk dipertemukan saat ini…

Namun, 

Bila di hati-hati kita masih terselip ruang untuk masing-masing…

Semoga doa-doa kita masih akan bertemu di langit dan menyatukan kita.. 

Salam, ilm

#ketikaisikepalaterlalupenuhdanrandom #lostinwords #missingpieces 

Otanjoubi Omedetou!

Eh, un, saya berpikir sekian lama apa sih yang bisa saya bikin buat kamu biar kamu bahagia terus? Biar serasa ada di surga selamanya, bukan cuma kena hembusan anginnya :p Hahaha, gajes. Tapi bukan ini pembahasannya. Ini tahap pembelaan diri. Saya mau membela diri soalnya nd punya hadiah 😦

Un, you know me so well lah. No details needed about me. Lah iya, wong ini bukan hariku :D.

Kadang, di satu saat, ada begitu banyak hal yang ingin kita sampaikan namun kehilangan kata-kata. Di suatu saat pula, kita tidak punya apa pun. Untuk unni, I lost my words. 

Inginnya saya ada di Jepun sana lagi main2 di pinggir, berbuat ketidakjelasan, Trus mengacaukan jadwalnya unni :D. Tapi apa daya, masih di sini, juga dengan ketidakjelasan.

Unni, all the best wishes for you. Tiap langkahmu, semoga berberkah. Jangan hiraukan mereka yang memandang sebelah mata, karena kamu jelas penuh dengan potensi, penuh dengan kebaikan, PENUH.

Unni, pulang ya tahun ini *matabelo *kedipkedip

maaf karena penuh ketidakjelasan, GCS masih 14 ini *ngantuk.

Salam,
ilm
-nakama

Teruntuk AIS

Dear AIS,

Barakallahu Fii Umrik, dear friend..

Kapan ya terakhir kali menulis tentang kamu di hari bahagiamu. Ah, semoga hari-harimu selalu jadi hari yang bahagia. Aamiin.  Read more…

Kindness

Ada banyak ragam kebaikan. Tidak semuanya bisa diterima dengan baik. Ketika kita berbuat begitu banyak hal baik, mungkin hanya sepersekian yang dihargai. Sisanya? Dicatat di buku amalan kebaikan.

Namun, tidak semua sesuatu yang dilakukan dengan niat baik berakhir baik. Niat baik saat dieksekusi dengan cara yang salah, yah, jangan salahkan orang-orang yang muak dengan kebaikan.

Menikah itu baik, kan? Apakah orang-orang yang didesak dan dibantu menikah itu semuanya senang? Saya rasa tidak. Sebagian besar orang akan berkata, “Please, just leave me alone!” Karena bahagia tidak harus diraih dengan menikah. Juga, tidak semua orang yang menikah itu bahagia. Kapan harus menikah? Well, jangan tanya saya. Kesiapan orang untuk menikah memangnya ditentukan sama siapa?

Sama seperti kebaikan lain, tidak semua menanggapi pernikahan sebagai hal positif. Apalagi ketika ranah pribadinya direcoki, terganggu? Yah, wajar sih. Tapiiiii, kenapa kita tidak menyambut kebaikan dengan lebih positif? Memangnya salah ya kalau ada orang tua yang peduli sama anaknya yang belum menikah? Memangnya salah kalau ada orang yang ingin dibangunkan rumah di surga dengan memudahkan niat baik seseorang untuk menikah? Bisakah kita memperlakukan orang-orang itu dengan baik dan bukannya menjauh dan semakin menyibukkan diri?

Berbuat baik itu mudah, menerima niat baik orang mungkin lebih sulit.

Tidak perlu tampak baik untuk berbuat kebaikan. Hmm.. alangkah baiknya apabila kita berbuat kebaikan dengan tetap menjadi baik. Ada yang bilang, boleh saja kamu merokok, bergaya urakan, berkata kasar, menyinisi orang lain, selama kamu bisa membuktikan kamu adalah orang yang hebat dan dapat bermanfaat. Well, kenapa tidak menjadi pribadi yang baik dan disenangi, menjaga kesehatan, berkata baik, juga sekaligus hebat dan bermanfaat?

Apalah apalah.