Kindness

Ada banyak ragam kebaikan. Tidak semuanya bisa diterima dengan baik. Ketika kita berbuat begitu banyak hal baik, mungkin hanya sepersekian yang dihargai. Sisanya? Dicatat di buku amalan kebaikan.

Namun, tidak semua sesuatu yang dilakukan dengan niat baik berakhir baik. Niat baik saat dieksekusi dengan cara yang salah, yah, jangan salahkan orang-orang yang muak dengan kebaikan.

Menikah itu baik, kan? Apakah orang-orang yang didesak dan dibantu menikah itu semuanya senang? Saya rasa tidak. Sebagian besar orang akan berkata, “Please, just leave me alone!” Karena bahagia tidak harus diraih dengan menikah. Juga, tidak semua orang yang menikah itu bahagia. Kapan harus menikah? Well, jangan tanya saya. Kesiapan orang untuk menikah memangnya ditentukan sama siapa?

Sama seperti kebaikan lain, tidak semua menanggapi pernikahan sebagai hal positif. Apalagi ketika ranah pribadinya direcoki, terganggu? Yah, wajar sih. Tapiiiii, kenapa kita tidak menyambut kebaikan dengan lebih positif? Memangnya salah ya kalau ada orang tua yang peduli sama anaknya yang belum menikah? Memangnya salah kalau ada orang yang ingin dibangunkan rumah di surga dengan memudahkan niat baik seseorang untuk menikah? Bisakah kita memperlakukan orang-orang itu dengan baik dan bukannya menjauh dan semakin menyibukkan diri?

Berbuat baik itu mudah, menerima niat baik orang mungkin lebih sulit.

Tidak perlu tampak baik untuk berbuat kebaikan. Hmm.. alangkah baiknya apabila kita berbuat kebaikan dengan tetap menjadi baik. Ada yang bilang, boleh saja kamu merokok, bergaya urakan, berkata kasar, menyinisi orang lain, selama kamu bisa membuktikan kamu adalah orang yang hebat dan dapat bermanfaat. Well, kenapa tidak menjadi pribadi yang baik dan disenangi, menjaga kesehatan, berkata baik, juga sekaligus hebat dan bermanfaat?

Apalah apalah.

Karena Tiap Kata Adalah Doa

3 April 2017

Sekitar 3 bulan lewat 1 pekan yang lalu, saya menulis tentang Annisa.  Tidak pernah terpikir sebenarnya apa yang saya tuliskan di sana, benar-benar bisa mempertemukan Anna dengan pendamping insya Allah dunia akhirat. Tidak banyak mungkin peran tulisan itu, tapi, saya percaya, ketika menulis disertai doa tak ada yang tak mungkin.

Buat yang lagi cari pendamping, Annisa masih available nih. Tipe? hmm, yang tidak menyebalkan. #eh Tapi sepertinya Anna sedang tidak fokus mencari pasangan hidup sih, tapi mana tau jodohnya lagi lewat di sini, tenang, Anna masih available buat dilamar. Hahaha

Karena tiap kata adalah doa. Jodoh pasti bertamu, tapi belum tentu tiap jodohnya orang mampir ke blog ini. Saat menulis paragraf di atas, mungkin ada malaikat yang lewat, mencatat, dan menunjukkan jalan buat sang jodoh membaca tulisan gila saya :D. Tuhan itu selalu punya cara untuk menunjukkan kekuasaan-Nya, mengingatkan kita tentang ada hal-hal di luar nalar.

Anna, maaf ya, kemarin nda sempat hadir di akad nikahnya, padahal berniat sepenuh hati untuk tiba saat akad :(. Maaf bikin rusuh resepsi, berkali-kali bolak-balik pelaminan buat foto, isi tempat VIP seolah-olah bos besar, deelel deelel. Tak usah berpanjang kata yah, intinya, Barakallahu lakuma wa bara alaykuma, wa jama’a baynakuma fiy khayr. Mungkin, ini tulisan terakhir tentang annisa, selamat membuka lembaran baru annisay. Apa yang kamu hadapi ke depannya mungkin sudah bukan lagi menjadi bagian yang penting untuk saling kita bagi. Akan ada banyak hal baru yang kamu hadapi, dengan orang-orang baru, kepentingan-kepentingan baru. Tapi, ingat selalu, saat kamu sedang duduk tenang, di alam bawah sadarmu yang sedang entah berkelana ke mana, selipkan saya di situ yah :D.

Salam,
ilm

What makes us?

We used to share everything, talk about everything, do everything together. We used to laugh a lot, study a lot, cry a lot. We used to be so good to each other. We used to be us.

Then someday I realize, we actually do not share anything at all. It just happened that we did through that together. It just happened that we were there together. We were just happened to be together. 

When we were not together anymore, how much we care about each other? How much excitement will we have to listen to each other stories, or just to tell our stories? How much do we know about each other now? We barely know each other. Then when we realize it, we just don’t know how to turn back to that togetherness. Are we still us?

Always and forever, aamiin

#randomsorehari #lapar #maucoklat #ndbolehjajan #harusnabung

Merindu Kalian; Part 5: Tentang Andi Irhamnia Sakinah

29 Desember 2016, 18:22 WITA

Menulis tentang Irham dimulai dari waktu di atas, nah, tulisan ini harusnya terpublish sebelum 2017. 😀

Kalau tentang merindu yah, Irham itu ada di urutan teratas untuk tidak dirindukan. Kenapa? Yah, secara, dia yang paling gampang dihubungi, paling gampang kalau mau diculik, paling gampang diajak ke mana-mana, paling gampang dibujuk (asal jangan dicolek pas ujian sih ya), paling mudah ditemukan pokoknya.Di beberapa sisi, dia jelas-jelas golongan darah B, tapi di sisi lain, kadang dia seperti golongan darah A absolut! Mungkin sih kalau saya menebak dia B0 #absurd mulai salah fokus lagi.

Di antara semua orang, Irham itu yang paling banyak saya punyai fotonya di hape. Saya nda ngerti sih, nih orang kadang menyebalkan minta dijitak, tapi, kalau diingat-ingat lagi, saya nda bisa menyebutkan dia itu pernah berbuat salah dan menyebalkan dalam hal apa. Irham itu yah, begitu itu. Eh, Ham, bagaimana sebenarnya kita bisa jadi seakrab itu? SMA? hmm.. kelasmu itu nun jauh di belakang, terpojok terkucil, kita bahkan tidak berasal dari SMP yang sama, untuk orang yang hidup dalam dunia sendiri seperti saya, mengenal Irham itu seperti sebuah keajaiban, takdir aneh. #tsah entah kenapa saya geli sendiri. Read more…

Merindu Kalian; Part 4 : Tentang Annisa Trie Anna

Dear Anna, apa kabar Pare-Pare? (entah kenapa yang ditanya kabarnya malah Pare-Pare :D)
Hai, the best, kindest, sweetest, prettiest, most amazing girl! (nah, ini baru beres nyapanya)

Kenal Annisa itu di tahun pertama SMA, 11 tahun yang lalu? Waw, tua ya kita 😀 . Kesan pertama : cute, diligent, friend-able 🙂 Kalau anak SMA punya kategori genk tertentu yang terdiri dari “The Most Popular” sampai “The Invisible”, Annisa sangat bisa jadi “The Most Popular” tp memilih menjadi “The Invisible” yang akhirnya membawa Annisa tetap jadi “Friend-able” buat semua. Saya ingat pernah minta Annisa jadi “HQJ (High Quality Jomblo)” untuk artikel Mading sekolah, dengan segera dia menolak trus bilang, “tidak”. Kenapa? Hei, Annisa, kamu ingat tidak kenapa? Saya ingat sih, tapi biarlah jadi rahasia perusahaan hehehe.

Saya ingat di akhir tahun SMA, saat banyak kegalauan akan melanjutkan ke mana, termasuk kegalauanmu. Mungkin dalam hati terdalammu, tidak segitunya yah mau jadi dokter. Jelaslah, Read more…

Merindu Kalian; Part 3: Tentang Desi Dwi Rosalia Ningsih Suparman

Hai, b’day girl!
Assalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh.
How are you lately?

Ini tulisan kedua di blog ini tentang kamu. Kalau kamu masih ingat, beberapa tahun lalu sy pernah menulis tentang kamu juga di hari lahirmu.

sma

Saya mengenal kamu sejak lebih dari 13 tahun yang lalu. Tahu hal yang paling menakjubkan dari perjalanan 13 tahun ini? Kamu sama sekali tidak berubah! Sedangkan saya, jelas-jelas tambah tua 😦 . Saya masih menyimpan foto kelulusan SMP kita, foto itu diambil lebih dari 11 tahun yang lalu, saya yakin orang-orang bisa langsung menebak kamu yang mana sedangkan akan menatap tak percaya kalau kutunjukkan saya yang mana. Hahaha.

Read more…

Merindu Kalian; Part 2 : Tentang Yunialthy Dwia Pertiwi

Ternyata saya gagal memenuhi tantangan untuk diri sendiri T.T. Ini bagian kedua. Biasanya sih, kalau tidak ada keadaan khusus, beliau ini selalu teratas dan ternomor satu. Bosnya kami, penuntun jalan, yang selalu punya cara, selalu punya jalan, tidak pernah menyerah. Belum sampai dua bulan kita tak bersua, can’t help it but miss you alreadyRead more…